"Kahua" adalah salah satu bentuk tradisi adat istiadat orang pegunungan di Seram Utara yang bentuknya seperti menyanyikan lirik-lirik dalam bahasa daerah setempat (bahasa Koa) dengan irama yang khas, dan diperagakan pada saat acara adat tertentu, seperti adat negeri, adat perkawinan, dll. Mereka juga menyebutnya "Mako-mako", sedangkan kebanyakan orang Maluku Tengah di daerah pesisir menyebutnya "Kapata"; dan kearifan lokal masyarakat pegunungan di Seram Utara lewat Kahua sebenarnya menjadi media pembelajaran sejarah.
Lirik-lirik dari "Kahua", sebenarnya bermuatan cerita-cerita tua (historis), yang kemudian disajikan lewat nyanyian yang khas. Inilah cara leluhur mereka menyampaikan pesan agar mudah dan menarik untuk di dengar oleh genarasi penerus. Sehingga dari sifat yang kedua dari "Kahua", bukan saja sebagai media pembelajaran sejarah, tetapi juga sebagai media hiburan bagi masyarakat.
Mereka penjaga gunung Murkele; Mereka orang pribumi Seram Bagian Utara; Mereka pemilik hikayat atas riwayat turun temurun generasi Maluku lewat "Kahua".
Tampilkan postingan dengan label Journal Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Journal Harian. Tampilkan semua postingan
Jumat, 21 Maret 2014
Rabu, 19 Maret 2014
MEREKA BERBAHASA "KOA", MEREKA PUNYA "KAHUA"
Orang Maraina memiliki bahasa daerah sendiri yaitu bahasa "Koa" sebagai bahasa tanah yang mencakup sebagian besar negeri-negeri yang ada di daerah pegunungan di Seram Utara, seperti di negeri Kaloa (dusunya: Elemata dan Hatuollo), Manusela, Selumena, Kanike, Maneo, Kabuhari, dll. Sebagai contoh, beta berikan sepenggal bunyi kalimat bahasa Koa untuk anda ketahui :
"Mailau-Pinamutu, mahe... sasala!!!" (Bahasa Koa)
"Bapa-Ibu; mari kamari, capat-capat!!!" (Bahasa Ambon Hari-Hari)
"Bapa-Ibu; mari kemari.... buruan!!!" (Bahasa Indonesia)
"Mailau-Pinamutu, mahe... sasala!!!" (Bahasa Koa)
"Bapa-Ibu; mari kamari, capat-capat!!!" (Bahasa Ambon Hari-Hari)
"Bapa-Ibu; mari kemari.... buruan!!!" (Bahasa Indonesia)
Kamis, 13 Maret 2014
BERJALAN KAKI TERJAUH
Hari ini adalah perjalanan kaki terjauh yang pernah beta tempuh semasa hidup sampai dewasa ini. Berjalan kaki selama 2 hari dan menempuh jarak kurang lebih 80-an km dan melintasi daerah pegunungan di Pulau Seram bagian Utara.
Perjalanan kaki menuju Negeri dan Jemaat Maraina, adalah salah satu jemaat yang terjauh posisinya dari pusat Klasis (Gereja Protestan Maluku; atau disingkat GPM) di Seram Utara; yaitu berdekatan dengan Jemaat GPM Manusela. Melewati tengah hutan lebat, kali demi kali, bahkan sungai; dan tidak sedikit juga menaiki bukit dan turun lembah demi lembah; sehingga beta ingin menggambarkan kisah perjalanan di hari ini agar lebih jelas untuk dipahami.
Meskipun beruntung dalam perjalanan kami berempat (2 orang pribumi, dan salah satu lainnya adalah Majelis Pekerja Klasis yang diutus oleh MPK untuk membuka persidangan jemaat di Jemaat Maraina) selama 2 hari ini, ada beragam pemandangan baru yang beta amati saat di dalam perjalanan. Yaitu melihat dan mendengar suara-suara indah satwa sepanjang perjalanan di dalam rimba raya tersebut; seperti kicauan burung-burung kasturi Raja, Burung Pombo, Burung Taong-taong, bahkan burung Kakatua Seram, dll. Yang sesekali membuat beta jadi takjub dengan pemandangan yang jarang sekali beta temukan sebelumnya, meskipun dibeberapa tempat lainnya di pulau seram seperti perjalanan menuju ke Lohia Sapalewa (2005) dan menuju ke Abio (2009).
Perjalanan kaki menuju Negeri dan Jemaat Maraina, adalah salah satu jemaat yang terjauh posisinya dari pusat Klasis (Gereja Protestan Maluku; atau disingkat GPM) di Seram Utara; yaitu berdekatan dengan Jemaat GPM Manusela. Melewati tengah hutan lebat, kali demi kali, bahkan sungai; dan tidak sedikit juga menaiki bukit dan turun lembah demi lembah; sehingga beta ingin menggambarkan kisah perjalanan di hari ini agar lebih jelas untuk dipahami.
Meskipun beruntung dalam perjalanan kami berempat (2 orang pribumi, dan salah satu lainnya adalah Majelis Pekerja Klasis yang diutus oleh MPK untuk membuka persidangan jemaat di Jemaat Maraina) selama 2 hari ini, ada beragam pemandangan baru yang beta amati saat di dalam perjalanan. Yaitu melihat dan mendengar suara-suara indah satwa sepanjang perjalanan di dalam rimba raya tersebut; seperti kicauan burung-burung kasturi Raja, Burung Pombo, Burung Taong-taong, bahkan burung Kakatua Seram, dll. Yang sesekali membuat beta jadi takjub dengan pemandangan yang jarang sekali beta temukan sebelumnya, meskipun dibeberapa tempat lainnya di pulau seram seperti perjalanan menuju ke Lohia Sapalewa (2005) dan menuju ke Abio (2009).
Langganan:
Postingan (Atom)
